Strategi membangun kebanggaan bangsa dengan iptek

Beberapa headline di surat kabar nasional belakangan memberikan indikasi kebangkitan beberapa BUMN industri strategis yang selama ini mati suri. Sebutlah PT Dirgantara Indonesia (DI) yang baru saja mengumumkan proyek kerjasama pembuatan pesawat transportasi ringan C-295 dengan Airbus Millitary berbasis di Spanyol.  Basis produksinya akan ada di Indonesia yang mulai tahun 2012 nanti akan dijadikan assembling center untuk kawasan asia pasifik.

Selain itu PT DI juga belakangan berhasil memproduksi beberapa pesawat buatan dalam negeri yang di-order di negara-negara lain, mulai dari Korea Selatan hingga Senegal.

BUMN industri strategis lain, Pindad baru saja mengalahkan Prancis dan Korea Selatan dalam tender pengadaan panser untuk tentara Malaysia.

Irnanda Laksanawan dalam keynote speech-nya di Raker RKAP 2012 BUMN industri strategis dan manufaktur, mengatakan “ PT Pindad itu kebanggaan bangsa. Ini panser milik sendiri. Tidak ada lisensi! Banyak orang yang menyangka panser ini lisensi dan assembling. Padahal panser ini design kita sendiri. Platnya dari Krakatau Steel. Ditembak berkali-kali tetap kuat.”

Panser buatan Indonesia ini  hasil dari evolusi proyek mobil nasional, Maleo.  Sekitar 100 orang dari PT DI dan PT Pindad ketika mengerjakan proyek tersebut dipekerjakan di luar negeri, di Australia dan di Jerman. “Kita belajar membuat mobil dari nol. Kita bekerjasama bukan dengan perusahaan otomotif, tapi dengan perusahaan design and engineering di Melboune. Jadi apa yang Anda lihat hebat ini ada proses evolusinya. Bukan melalui proses ketok magic“ ketus Irnanda.

Diakui oleh Irnanda, standard military dan quality control dari Panser ini sangat ketat. TNI sebagai user utama panser ini cukup rewel, “PT Pindad itu dulu dimarahi terus oleh TNI. Tapi akibatnya jadi bagus. Mungkin memang harus dimarahi dulu (oleh konsumennya).”

Prestasi Panser yang diproduksi Pindad ini mengalahkan Prancis dan Korea Selatan memang membanggakan. “Kita bisa mengalahkan negara yang awalnya kita tiru. Mesin dari Panser ini awalnya menggunakan mesin truk (Heavy Duty) buatan Renault di Prancis. Begitu kita mengalahkan Prancis di Malaysia, mereka bilang kita tidak bisa pakai Renault. Sempat pusing ketika itu karena tidak mungkin kita balik lagi pakai mesin Perkasa buatan Texmaco yang sudah mati. Akhirnya karena lisensinya dari kita sendiri, maka kita bebas belanja mesin hingga akhirnya kita ke Jerman.”

Sebanyak 34 Panser ini kini dipesan Malaysia. Dan ini bukti kemandirian industri pertahanan, bahwa embargo militer sekalipun dapat dilewati jika kita menguasai teknologi dan design.

 

Sumber: http://www.the-marketeers.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s