Cerpen Seseorang yang gelisah

Rasa itu entah apa sebabnya tiba-tiba saja menyergap Tito dalam kesendiriannya. Rindu bercampur gelisah, begitu menggebu. Dua minggu sudah lamanya ia kehilangan berita, yang biasanyadengan mudah ia dapati dari status-status Facebook milik Anggia. Seseorang yang pernah menjadi Ratu hatinya, yang hari-harinya begitu akrab meng-update status di fb.
Tapi kini sudah hampir lewat dua minggu kolom itu sepi dari status-status sang pemilik. Status terakhirnya berbunyi,
“ssorg terus m’perhatikan ak dari jauh, ak tau. utk itu kuucapkan terima kasih, jg permintaan maafku  utk stap untai kt kasar yg pernah terlontar, yg tentu tdk berkenan di hati. Kelak suatu saat Qt ketemu lagi, km akan liat ak tlah berbeda, semakin dekat dengan mimpi2 yang pernah ku ceritakan. pada akhirnya there’s nothing happened in our life but for some reason”
Status yang Tito yakini sekali ditujukan untuk dirinya.Karena betapapun ia telah memblokir akses yang Anggia miliki untuk melihat profile fb miliknya, ia sendiri  masih memiliki akses untuk terus memantau mantan kekasihnya itu melalui fb teman-temannya yang juga berteman dengan Anggia. Dan ia yakin sekali Anggia mengetahui hal itu.
Malam itu pukul 00.15, suasana di warnet milik Tito lumayan sepi. Hanya beberapa kawan akrabnya yang duduk di balik bilik-bilik warnet, bermain poker seperti biasa.
“Woi, keock, fb lo gue pinjem dulu dong,  bentaran.” Seru Tito dari balik meja operator pada Adie, yang biasa dipanggil Keock.
“Mo ngapain lo?? Tanggung neh gue lagi menang banyak,” Seru Adie balik.
“Bentar doang, buru dah. Lo maen pake punya gue ajah, chip gue juga lagi banyak tuh, abisin-abisin dah,’ Tito bersikeras.
Segera setelah tampilan monitor miliknya berubah tampilan menjadi “beranda” facebook milik Adie, Tito mengetik sebuah nama pada kolom pencarian. Sebuah akun facebook dengan foto profile seorang gadis manis berjilbab yang tersenyum ceria muncul dari daftar pencarian. “Princess Anggia”.
Lagi-lagi kosong dari aktifitas sang pemilik. Ada beberapa kiriman dinding yang menanyakan kabar tapi tak terjawab. Diarahkannya kursor ke simbol foto, kemudian dikliknya album dengan judul “I love my hijab and i’m proud of it” yang berisikan foto-foto Anggia.Puluhan jumlahnya, mungkin malah mencapai ratusan, dengan berbagai pose yang menunjukkan betapa narsisnya sang mantan.
Lama Tito terdiam menatapi foto-foto tersebut. Berusaha mengobati kerinduannya sendiri, pada betapa cerianya gadis dalam foto-foto tersebut. Kangen pada joke-joke yang dilontarkan, cerita-cerita yang dulu hampir setiap hari ia dengar tentang hari-hari yang Anggia lalui.
Hampir semua foto yang terpampang selalu dalam pose tersenyum sumringah, seolah hidup gadis dijalani tanpa rintangan dan beban. Padahal Tito tahu pasti kedulitan dan beratnya terpaan hidup yang berkali-kali menghantam kehidupan gadis berusia 20 tahun ini.
Anggia tetap tegar berdiri, kadang memang ada kalanya terpaan tersebut memancing emosinya dan Anggia lontarkan begitu saja melalui statusnya yang lantas memancing komentar-komentar tentang betapa pentingnya bersabar. Namun Tito tahu pasti, emosi itu hanya sesaat itu saja. Anggia selalu dengan cepat melupakan masalah yang dianggapnya menyita emosi dan tenaga.
Ahh, Tito mendesah panjang. Mengenyakkan diri lebih dalam lagi ke kursi. “Mbem, aku kangen banget sama kamu.” Batinnya lirih.
# # #
“Si Anggia emang sakit apa, To??” Tito menoleh ke asal suara.
Petang itu Ia baru saja pulang dari kampus saat sahabatnya yang lain, Juna melpontarkan pertanyaan tersebut. Ia bahkan belum sempat melepas helm yang dikenakannya. “Sakit? Sakit apa, ya mana gue tau. Emang gue bokapnya?” Jawab Tito asal, meski dalam hatinya langsung saja timbul begitu banyak tanya.Anggia sakit? Sakit apa? Apa itu sebabnya fbnya sepi?
“Tau darimana lo?”
“Tadi si gue liat di fb nya tuh ada…”
Belum lagi Juna menyelesaikan kalimatnya, Tito langsung menghambur masuk ke dalam warnet.
“Cepet sembuh ya, mba…buka matanya, kita semua kangen mba ada di tengah2 kami. Terus berjuang ya melawan semuanya, kita percaya mba bisa dan kami mendo’akan mba. Peluk cium dari seluruh keluarga, we love you and keep fight!”
Begitu bunyi kiriman di dinding fb Anggia dari adiknya, Merpati. Baru saja dikirim sejam yang lalu dan langsung mendapat puluhan komentar yang menanyakan keadaan Anggia. Sakit apa? Sejak kapan? Dirawat di rumah sakit atau di rumah? Dan beberapa komentar berisikan do’a-do’a yang berasal dari teman-teman sekampus Anggia.
Tak satu pun tanya terjawab.
Seolah kehilangan kekuatan di seluruh persendiannya, Tito luruh begitu saja. Terduduk di kursi dengan bola mata menatap nanar ke arah layar monitor.
Tentu saja, seharusnya gue tau ada yang nggak beres, batinnya berbisik. Anggia yang hampir selalu nggak pernah absen meng-update status tiba-tiba menghilang dari peredaran. Tapi sakit? Kenapa hal itu sama sekali nggak terpikir? Bahkan ketika terpaksa harus terbaring lemah karena maag-nya kumat pun Anggia tetap eksis!! Sakit apa yang sampai membuatnya nggak sadarkan diri???
“Kemana?? Kemana harus gue cari tau…” Tito berpikir keras. Di ponselnya ada nomor beberapa kerabat Anggia, tapi rasanya ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk bertanya pada mereka. “Teman! Siapa? Siapa? Ayo mikir…!!” Tito memejamkan kedua matanya. Anggia tipe yang ekstrovert. Ia cerdas, supel dan mudah masuk dalam lingkungan apa saja. Bebrapa nama teman Anggia sempat nyangkut di kepala Tito tapi Tito butuh seseorang yang ia juga kenal baik. Febri! Otaknya berseru keras, menyebutkan nama seseorang yang dirinya dan Anggia kenal cukup baik. Meskipun perkenalan mereka berawal dari fb tapi Anggia sempat beberapa kali kopi darat dengan Febri dan bahkan bisa dibilang sahabatan. Apalagi Febri tak lain adalah tetangga rumahnya yang pernah memiliki hubungan dekat dengan Juna.
Segera setelah nama itu muncul, Tito langsung menghambur keluar mencari Juna. “Woi, cuy. Pinjem hape lo dong!” pintanya langsung pada Juna yang sedang asik duduk-duduk di warung di seberang warnet.
“Mo ngapain lo? Miskin amat juragan warnet hari gini sampe ga punya pulsa,” seloroh Juna sambil tetap menyerahkan ponselnya.
Tito tidak menghiraukan guyonan tersebut, matanya sibuk menelusuri daftar kontak di ponsel Juna. Sering adu komen dengan Febri di fb tidak lantas membuat Tito memiliki nomor kontak Febri dalam phone book-nya.
“Halo, buu. Ni gue Tito.”
“Ooh, iya kenapa, to?
“Ga, gue Cuma mo nanya, si Anggia emang sakit apaan? Lo tau ga?”
“Sakit? Emang sakit apa? Gue ga tau malah, emang dia sakit? Gue dah lama nggak ada kontak ma doi. Kenapa lo tiba-tiba nanyain doi, kangen? Bukannya lo udah punya yang baru…”
“Hahaha, bisa aja lo. Yaudah thanks yah.” Klik.
Nihil.
“Lo kuatir?” Juna yang entah kapan berdiri di sisinya berbisik lirih. Mereka berada jauh dari keramaian, di ruangtamu rumah Tito. tempat yang bisa menyembunyikan segala raut wajah gelisah yang dapat jelas terbaca anak-anak satu tongkrongan mereka. Seluruh isi rumah sudah terlelap. Jarum jam menunjukkan hampir tengah malam.
“Gue tau lo kuatir, ga usah terus-terusan membohongi diri, bro. Mungkin satu-satunya cara untuk cari tau ya lo datengin rumahnya.  Dengan begitu lo tau bisa tau pasti.”
Ide tersebut bukannya nggak pernah melintas, hanya saja Tito merasa dirinya tidak memiliki record yang baik dimata keluarga besar Anggia. Bukan dalam hal tingkah laku, tapi penampilannya yang bikin para calon mertua di seantero dunia bakal ilfil. Rambut ikal gondrong sebahu, yang lebih sering acak-acakannya ketimbang rapinya. Badannya yang tinggi besar sering di-cover jeans belel dan kaos oblong. Singkat kata Tito itu : preman banget, lah!
Mungkin sebab itu, sang mantan calon ayah mertua jarang sekali berlama-lama mengajak ia berbasa-basi. Malah oernah suatu kali dirinya diajak sowan ke tempat salah seorang budhenya Anggia, sang budhe dengan terang-terangan menyarankan Anggia buat nyari cowok lain.
Dulu sih Tito nyantai aja karena Anggia nggak pernah mempersoalkan penampilan luarnya, makanya ia tetap PD bolak-balik ke rumah sang mantan biarpun selalu dikacangin sang ayah. Dan sekarang, ia disuruh datang ke sana seorang diri tanpa Anggia ada di rumah? Jujur saja Tito hopeless. Ngeri. Jangan-jangan daun pintunya bakalan reflek langsung ditutup lagi begitu tahu ia yang datang.
Hmpft… Tito mendesah
# # #
Silakan kalau ada yang mau bilang dirinya pengecut. Karena meskipun sudah hampir tiga hari mengetahui bahwa Anggia sakit, Tito tetap bertahan untuk tidak mencari tahu langsung ke rumah cewek itu. Ditekannya kuat-kuat rasa ingin tahu yang sebenarnya begitu menuntut untuk dituntaskan. Sebenarnya bukan semata karena takut dijutekin. Tapi lebih kepada perasaan bersalahnya pada Anggia yang mengekangnya.
Setahun lebih menggantung hubungan mereka tanpa kepastian, namun hubungan mereka tetap seperti layaknya orang berpacaran. Dimana ada Tito di situ ada Anggia, dan sebaliknya. Tapi lalu tiba-tiba ia berpaling pada wanita lain seperti antara dirinya dan Anggia murni hanya ada pertemanan sejak awal. Pertemanan yang mesra, yang membawa serta segenap rasa sayang dan juga asa pada diri Anggia.
Lamunan Tito pada perasaan bersalahnya terinterupsi oleh dering ponselnya yang menyalak nyaring.  Lagu Scatzhi yang dinyanyikan Slank mengalun, menambah goresan perih. Karena lagu itu pernah ia persembahkan untuk Anggia.
“Assalamu’alaikum,” suara perempuan muda di seberang sambungan telepon. “Mas Tito?”
“Ya, ini Tito.”
“Mas, ini Merpati, adiknya Mba Anggia…”
# # #
Merpati menyambut kedatangan Tito di ambang pintu kamar pasien tempat kakaknya di rawat. Sebelum mengajak Tito masuk, Merpati memberi penjelasan singkat tentang keadaan kakaknya.
“Tiga minggu yang lalu Mba Anggia secara tiba-tiba pingsan di kampusnya sewaktu mengerjakan soal-soal UAS. Dan sejak saat itu nggak sadarkan diri, tapi dua jam yang lalu Mba Anggia sempat sadar setelah tiga minggu koma. Kedua matanya terbuka sebentar memandangi saya, ibu dan ayah. Seperti hendak berpamitan. Lalu sebelum hilang lagi kesadarannya, Mba Anggia sempat menyebut nama Mas Tito. Setelah itu kondisinya makin nggak stabil…” Merpati membungkam mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Perasaan pilu tentang gambaran akan kehilangan kakak semata wayang benar-benar memporak-porandakan ketegaran yang sudah payah ia kumpulkan sewaktu menelepon Tito tadi.
Langkah Tito terhenti di depan pintu kamar pasien. Matanya menatap nanar pada sesosok tubuh yang terbaring tanpa daya, dua meter di depannya. Di dalam ruangan sudah berkumpul keluarga besar dari kedua belah pihak orangtua Anggia yang telah bercerai, keduanya didampingi pasangan masing-masing
Awan mendung menyelimuti setiap wajah yang berdiri memenuhi ruangan berukuran 4 x 4 meter tempat Anggia di rawat.
Sangat berbeda ketika pertama kali keduanya bertemu dua tahun lalu.
Waktu itu Anggia masih gadis manja yang slebor dalam berpakaian, Kadang kaos oblong segede gaban dipake. Kadang tank top super mini yang meperlihatkan pusarnya kemana-mana.
Sekarang, bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, tubuh mungil itu tertutup rapat dari ujung ke ujung.
Merpati, adik Anggia, membisikan sesuatu pada kakak satu-satunya. Sepeti seolah Anggia dapa mendengar ucapannya. Berharap penuh apa yang disampaikannya dapat menambah semangat Anggia untuk berjuang melawan penyakit yang menggerogotinya.
“Kemari, Mas…” Merpati berkata lirih, memberi isyarat pada Tito agar mendekat
Antara nggak tega tapi ingin…Tito mendekat. Duduk di kursi yang disediakan Merpati. “Merpati tinggal sebentar, Mas.”  Merpati berkata sambil mengajak semua orang meninggalkan ruangan. Tito mengangguk mengiyakan.
Sekarang di ruangan berukuran 4 X 4 meter itu hanya tinggal dirinya sendiri, berdua dengan seseorang yang dikasihinya. Karena rasa itu tak pernah begitu saja pergi. Cewek yang terbaring tanpa daya di hadapannya adalah seseorang yang pernah begitu berarti, yang pernah meramaikan dunianya. Memberikan begitu banyak warna dengan pembawaannya yang ceria.
Siapa sangka dibalik semua tawa gembira dan senyum sumringah serta canda yang selalu menjadi ciri khasnya tersebut, Anggia menderita kanker otak stadium akhir. Seperti seolah masalah keluarganya masih belum cukup berat menjadi beban.
“Mbem…” Tito berbisik. Tangannya gatal ingin membelai, mengusap kepala Anggia. Tapi sesuatu mencegahnya melakukan itu. Ia merasa selama ini telah begitu banyak menyakiti Anggia. “Kenapa kamu nggak pernah cerita… hampir tentang semua hal kamu cerita ke aku. Tapi kenapa hal yang begitu penting kayak gini kamu simpan sendiri?”
Tito menundukkan kepalanya, bertumpu dengan kedua tangan terlipat pada bed tempat Anggia terbaring. Dadanya penuh sesak oleh rasa kangen, hasrat ingin membelai, menyalurkan segenap sayang dan kepedulian.
# # #
Dengan kepala tertunduk Tito keluar dari ruangan tempat Anggia di rawat, bekas-bekas cucuran air mata masih nampak membekas di kedua pipi dan pelupuk matanya.
Seorang wanita berusia 40 an tahun langsung menjerit histeris dan menghambur begitu saja ke dalam ruangan, Ibu Anggia. Anggota keluarga yang lain menyusul di belakangnya dengan isak tertahan.
Merpati sendiri tetap bergeming di tempatnya berdiri. Tatapannya terpaku pada lantai rumah sakit, lalu perlahan ia memejamkan matanya dan menarik napas. Menekan dalam-dalam perasaan kehilangan yang menggerogotinya. Di dalam nanti ia harus terlihat tegar untuk menguatkan sang ibu.
“Mba Anggia menunggu Mas, ternyata…
Syukurlah kini penderitaannya telah berakhir.” Merpati berkata sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
* THE END *

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s