Cerpen Manusia yang Gelisah

Sudah satu jam Tia duduk di depan meja kamarnya, pandangannya kosong terarah pada setangkai Edelweiss yang tersimpan rapi di sudut mejanya.

Yaa…setangkai Edelweiss yang mengenalkan dirinya pada sebuah cinta untuk pertama kalinya dengan  kisah yang takkan pernah dilupakan seumur hidupnya.

Diambilnya telepon genggam yang sedari tadi tergeletak di atas meja, dibukanya kotak masuk pesan, kosong, dilihatnya kotak keluar, sudah 20 pesan dikirimnya hari ini dan statusnya masih tetap pending. Lalu tangannya pun beralih pada sebuah laptop yang ada di hadapannya, dengan hati penuh harap, segera dibuka dan dinyalakan laptop itu. Dan masih dengan perasaan harap harap cemas, Ia menuju kotak masuk email, dan…  tidak ada pesan  baru disana.

Dengan perasaan kecewa, Ia beranjak dari tempat duduknya, dibiarkannya laptop tetap dalam keadaan menyala, lalu Ia menuju tempat tidur yang masih kelihatan baru dan tertata rapi. Dibaringkan tubuhnya, tidak ada sesosok tubuh yang seharusnya menemaninya malam ini.

Masih jelas  terngiang di telinganya, ucapan Dida, lelaki yang baru kemarin resmi menjadi suaminya. “Sayang, tadi Pak Edy telepon, Lusa Ia minta tolong aku menemani rombongan para medis untuk ke lokasi gempa , sayang dah liat beritanya khan?”

“Iyaa, tapi besok khan pernikahan kita …. ”

“Iya, maafin aku ya… aku juga tidak ingin meninggalkanmu… Sabar ya sayang”

Tia pun tak lagi dapat membendung air matanya, dibiarkannya mengalir dan terus mengalir hingga Ia terlelap….

************

Dini hari Tia terbangun, Ia mendengar telepon genggamnya berbunyi, dari nadanya Ia tahu ada pesan baru yang masuk. Jantungnya tiba tiba berdegub kencang, berharap pesan tersebut berasal dari lelaki yang dicintainya, buru buru diambilnya telepon genggam itu dan dibukanya kotak masuk.. “aaaaarggh…hanya dari layanan provider.” Lalu dibukanya kotak keluar, semua pesan masih tetap dalam status pending. Ditekannya tombol  panggilan, dipilihnya nomor yang sudah berpuluh puluh kali ditekannya, hanya terdengar suara wanita yang menjawab panggilan dengan pesan yang sudah sangat dihafalnya.

*********

Pagi pun menjelang, matahari pun sudah memancarkan sinarnya, namun Tia masih terbaring di tempat tidurnya, tak ada keinginan darinya tuk meninggalkan kasur empuknya itu, tubuhnya seakan mati rasa, tak dipedulikan perutnya yang kosong sejak kemarin pagi. Menangis, menangis dan menangis hanya itu yang dilakukannya.

Waktu pun terus berjalan, kabar yang dinantinya belum juga tiba. Tia pun akhirnya pasrah, menyerah pada keputusan Sang Khalik.

Dengan asa yang tersisa, Tia pun beranjak dari tempat tidur, memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, dibiarkannya air dingin menyiram tubuhnya, membasahi rambutnya yang tergerai panjang. Dinginnya air seakan ikut menyirami hatinya yang sedang gundah, semua seakan terasa lebih baik. 

Malam pun tiba, matahari sudah kembali ke peraduannya, dinyalakannya televisi, dan dilihatnya berita, namun isi berita membuatnya semakin gelisah, terlebih saat kabar lokasi gempa dimana suaminya ditugaskan dinyatakan belum kondusif. Segera di matikannya televisi, dan  Ia pun kembali terdiam,  benar benar pasrah, berharap dan hanya berharap pada pertolongan Yang Maha Kuasa.
Malam pun semakin larut, namun tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk, Tia pun segera menuju ruang depan,  “semoga bukan membawa kabar buruk” bathinya.

Dibukanya pintu, dilihatnya sosok lelaki berdiri depan pintu, wajah Tia  pun berubah, di peluknya lelaki itu, sambil menangis Ia berkata … ” Sayang, kenapa tega melakukan ini sama aku, kemana hape mu?”

Dengan tenang Dida menjawab ” maafin aku sayang, batre habis, aku ga bawa charger, setibanya di perbatasan lokasi, aku diperbolehkan kembali, karena disana sudah ada yang menggantikan tugasku. Karena ingin segera bertemu istriku tersayang, aku meneruskan perjalanan tanpa istirahat, aku sangat merindukanmu sayang, Edelweissku, kekasih hatiku”…..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s